Buku dan Pendidikan Karakter

Standar

soekarnoPersis sebagaimana tercermin pada sosok tokoh-tokoh berkarakter di negeri ini seperti Bung Hatta atau Sutan Sjahrir, tak pernah bisa dilepaskan dari kegandrungan membaca buku. Ada semacam “misteri” pada setiap buku. “Misteri” itu adalah pembentukan karakter bagi para pembacanya. Sehingga dari sini dapat disimpulkan, mereka yang tak pernah membaca buku adalah sosok yang paling mungkin tak berkarakter.

Sebagaimana dapat kita catat, dalam beberapa tahun terakhir ini bermunculan wacana di seputar pendidikan karakter. Tetapi selama itu pula, hampir tak ada pembicaraan serius mengaitkan keberadaan buku dengan pendidikn karakter. Buku dianggap terlalu softsebagai dasar pembentukan karakter. Pendidikan karakter lalu didominasi oleh serangkaian pemberian motivasi. Agenda pendidikan karakter pun tereduksi semata menjadi agenda para motivator.

Sampai kapan pun, mutlak bagi dunia pendidikan menumbuhkan tradisi membaca buku. Tujuan pokok dari upaya ini ialah memupuk kemampuan berdialog secara imajiner dengan berbagai dimensi yang tertera sebagai narasi dalam sebuah buku. Pada mulanya, buku memang sekadar dibaca untuk mendapatkan informasi. Namun tatkala membaca buku sungguh-sungguh berkembang menjadi tradisi, maka itu berarti terjadi dialog yang bersifat dialektis dengan substansi dan esensi. Mengingat buku merupakan pilar tegaknya peradaban, maka kebiasaan mencerap substansi dan esensi itulah yang lantas menghantarkan peserta didik menjadi sosok berreadingkarakter.

Tatkala membaca buku telah berkembang sedemikian rupa menjadi tradisi, maka proses pendidikan takkan kesulitan menukikkan kapasitas membaca dengan sasaran buku yang benar-benar berbobot. Peserta didik bukan saja akrab dengan buku, lebih dari itu berada pada satu titik kecenderungan mencerna buku-buku berbobot. Kompleksitas tantangan hidup lalu dicarikan jawabannya melalui buku-buku berbobobt. Kuatnya tradisi membaca buku justru mengondisikan peserta didik benar-benar digdaya berdialog dengan buku. Bukan saja buku berfungsi sebagai referensi demi menguak dan menguasai ilmu pengetahuan, tapi sekaligus untuk membentuk karakter.

Masalahnya, dunia pendidikan kini kering kerontang dari tradisi membaca buku. Dunia pendidikan semakin lumpuh saat diharapkan mampu menumbuhkan tradisi membaca buku dalam realitas hidup sehari-hari peserta didik. Bahkan, guru-guru yang gemar membaca buku pun semakin minoritas jumlahnya. Dengan demikian berarti, dalam kancah pendidikan nasional sesungguhnya tengah berlangsung pengabaian terhadap salah satu faktor penentu pembentukan karakter. Jangan heran jika pendidikan karakter di Indonesia pelik dan tak dapat diwujudkan secara mudah.

Sumber:
http://www.jubilee-jkt.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1014:buku-dan-pendidikan-karakter&catid=97:pendidikan-karakter&Itemid=149

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s