TKBetapa terkejutnya aku pagi itu, ketika aku telah sampai di tempat dimana aku menagajar TK Aisyiah Bustanul Athfal. Bagaimana tidak, aku dikejutkan oleh Sandy, dialah siswa TK B pembuat onar di sekolah. Pagi itu dia bermain bersama teman-temannya, ketika itu dia mengamuk dengan teman bermainnya. Semua fasilitas yang ada dikelas dilempar olehnya, sehingga berantakan memenuhi kelas. Tak hanya itu beberapa teman yang ada dikelas terkena lemparan barang-barang dari Sandy, sehingga suasanapun menjadi rame dan tegang karena suara tangisan dari siswa lain.

Tk.“Bu guru..Bu Guru”. Kata Faqila sambil ketakutan. “Ada apa sayang?”. Tanyaku. “Sandy Bu.. Sandy..”. Tegas Faqila, salah satu siswa kelas B. “Ada apa dengan Sandy Mbak Qila?”. Tanyaku dengan penasaran “Sandy mengamuk lagi bu, dan teman-teman menangis karena terkena lemparan dari Sandy”. Kata Faqila sambil menangis ketakutan. “tenang sayang”. Kataku. Akupun bergegas menuju kelas, dan saat itu akupun bingung bagaimana menghadapi Sandy.  “Ok. Harus tenang”. Kataku dalam hati. “Mas Sandy.. Mas Sandy sayang sini nak, mas Sandy dengarkan ibu.” Kataku pelan

Ketika itu Sandy masih saja membuat rusuh dikelas. Siswa ini memang setiap hari ada-ada saja kelakuannya, entah itu jahil dengan teman-temannya, berkelahi dengan temannya, ingin selalu menang sendiri ketika bermain, dan masih banyak lagi perilakunya yang selalu membuatku was-was. Kemudian akupun berusaha untuk menenangkan Sandy. “Mas Sandy.. Mas Sandy.. Mas Sandy sayang dengarkan ibu nak.”  Kataku, sambil pelan-pelan mendekat siswa itu. Lalu akupun mendekap dia.  “Mas Sandy ingin disayang Ibu, bapak, Bu Guru dan teman-teman Mas Sandy?”. Kataku. Sandy pun diam.

“Mas Sandy Allah itu sayang sama Mas Sandy? Tapi jika mas Sandy suka marah-marah Allah nanti gak jadi sayang sama Mas Sandy. Mas Sandy mau kalo Allah gak sayang lagi sama Mas Sandy?”. Sandy pun menggelengkan kepala. “Mas Sandy mau kalau Ayah dan Bunda gak sayang lagi sama mas Sandy?”. Dia pun menggelengkan kepalanya kembali. “Mas Sandy mau kalau gak punya teman, nanti gak ada lagi yang mau bermain bareng sama mas Sandy?” “Gak mau bu.” Kata Sandy. “Nah, kalo Mas Sandy ingin disayang Allah, ingin disayang Bu guru, Ayah dan Bunda, berarti mas Sandy harus jadi anak yang baik, tidak nakalin teman-temannya, berbakti pada Ayah dan Bunda.” Kataku .

“Coba sekarang Mas Sandy minta maaf sama teman-teman”. Kataku kembali. “Gak mau titik”. Kata Sandy sambil menggelengkan kepala. “Lho kok, gak mau?”. Tanyaku . Lalu akupun bergegas menuju almari yang ada di pojok depan sebelah kanan kelas. Aku mengambil paku, palu, dan balok kayu. “Coba Mas Sandy tahu, ini apa?”. Kataku
“Paku, Kayu dan palu bu.” Jawab Sandy. “Pintar sekali. Nah coba mas Sandy pegang paku ini di tangan kiri, dan palu di tangan kanan, nah terus Mas Sandy pukul-pukul kayu ini”. Perintahku, sambil ikut membantu.

“Terus coba Mas Sandy lepaskan paku ini”. Kataku. “Susah bu”. Kata Sandy. “Ibu bantu”. Kataku lagi. Akhirnya paku terlepas dari balok kayu tersebut.“Alhamdulillah..Hmm, kamu telah berhasil dengan baik nak, tapi lihatlah lubang-lubang di balok ini. Balok ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik.”

“Tapi Allah Pemurah sayang, Allah pasti akan memaafkan kesalahan kita selagi kta mau minta maaf, ayok Mas Sandy minta maaf sama teman-teman”. Kataku. Lalu Sandypun minta maaf ke teman-temannya. “Pintar, nah ayok salaman sama Mas Zaki, Mas Fatih, Mas Dani,  Mas Haydar, Mas Dimas, Mas Dandy, Mbak Faqila, Mbak Nabila, Mbak Mutia, Mbak Andin, Mbak Azka, Mbak Yusti, Mbak Sita, Mbak Indah, Mbak Ara, Mbak Kesya, Mbak Shela, Mbak Cesa, Mbak Claresta, Mbak Amel, Mbak Dygta”.

Namun siswa ini sebenarnya pandai, dia selalu juara menggambar ketika ada event lomba. Selain itu dia adalah anak yang pandai dalam berhitung jarimatika, dia pun rajin membaca buku, karena orang tuanya selalu menerapkan kebiasasn membaca buku. Namun ternyata dia kurang bersosialisasi dengan teman-temannya, jika setelah sekolah dia tidak diperbolehkan untuk keluar rumah, atau main dengan teman-temannya. Segala fasilitas terpenuhi tetapi sosialisasi dengan teman di rumah sangatlah kurang, sehingga mengakibatkan anak menjadi labil, karena dalam diri anak ingin bersosialisasi dengan teman sebaya sehingga ketika di sekolah dia meluapkan semua rasa kekecewaannya, dengan membuat kekacauan di sekolah.

By: Nur Chanif Muflichah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s